Kata ‘Tritunggal’ bukanlah kata yang berasal dari Alkitab. Akan tetapi, bagaimanapun juga kata ini adalah sebuah kata yang dikemas dalam konten yang Alkitabiah. Tritunggal adalah sebuah istilah yang dirumuskan oleh Gereja dalam upaya untuk mencoba merangkum dengan secermat mungkin apa yang Allah ungkapkan tentang jati diri-Nya, seperti yang tercatat dalam Firman Tuhan. Dan, karena di dalam kata ini terkandung makna yang sangat dalam, baik dari kebenaran Alkitab maupun rumusan gereja mula-mula, maka kita menggunakan kata ‘Tritunggal’ sebagai cara utama untuk berbicara tentang Allah, dan kita menggunakan konsep ‘Allah sebagai Tritunggal’ sebagai kunci untuk memahami teologi Kristen.
Ada dua bagian penting untuk memahami doktrin Tritunggal. Bagian pertama adalah pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Allah. Mulai dari ayat-ayat pembukaan pada Perjanjian Lama, jelas bagi kita bahwa adalah Allah dan Allah sajalah yang berkuasa atas segala sesuatu, dan Allahlah yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dia tidak digambarkan sebagai yang terkuat di antara para allah lain di samping semua yang diciptakan-Nya. Bahkan sesungguhnya Dialah satu-satunya yang ada. Tema ini—yaitu hanya ada satu Allah yang benar—senantiasa nyata dalam seluruh penyataan Allah kepada kita. Nubuat Yesaya: “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.’” (Yes 44:6; TB) Paulus mungulang prinsip ini dalam Perjanjian Baru sebagai dasar iman kita: “Allah hanya satu.” (Roma 3:30)
Dalam bahasa teologis yang formal, ketika kita ingin menjelaskan fakta ini bahwa hanya ada satu Allah, kita mengatakan bahwa “Allah adalah satu substansi”. (Secara teknis, kita juga bisa menggunakan istilah teknis Yunani untuk substansi Allah, yaitu bahwa “Allah itu satu ousia”.) Untuk menekankan bahwa istilah substansi (atau ousia) ini bukanlah menggambarkan sesuatu yang darinya Allah terbuat, maka Anda dapat saja mengatakan secara sederhana bahwa “Allah adalah satu Allah”. Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa sebagian dari definisi Tritunggal hanya mengkomunikasikan pengakuan Alkitab bahwa Allah adalah satu-satunya Allah, dan Ia tidak dapat ditambahkan atau dipecahkan menjadi potongan kecil. Hanya ada satu Allah, tidak ada yang lainnya.
Bagian kedua dari pemahaman Tritunggal adalah pengakuan “Yesus adalah Tuhan” yang kita temukan puluhan kali dalam berbagai bentuk di seluruh Perjanjian Baru. Ini merupakan penghentian radikal dari pemahaman Yudaisme di mana para murid dibesarkan, juga sebuah refleksi dari kehidupan Yesus sendiri serta pengajaran-Nya. Salah satu alasan utama mengapa para pemimpin Yahudi begitu meradang terhadap Yesus adalah adanya fakta bahwa “bukan hanya karena Ia melanggar peraturan agama mengenai hari Sabat, tetapi juga karena Ia berkata bahwa Allah itu Bapa-Nya; berarti Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah.” (Yoh 5:18) Dalam Yohanes 10: 30, Yesus secara terbuka mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu,” sehingga orang-orang Yahudi telah siap untuk melempari Dia dengan batu untuk apa yang mereka anggap penghujatan tersebut. Secara lebih pribadi, Yesus menguatkan murid-murid-Nya yang sedang ketakutan saat perjamuan terakhir dengan mengatakan bahwa “orang yang sudah melihat Aku, sudah melihat Bapa.” (Yoh 14:9) Jadi, setelah kebangkitan Yesus dan kedatangan Roh Kudus di mana pemahaman murid-murid telah menjadi lengkap, maka para murid tidak ragu-ragu untuk menyatakan kepada dunia bahwa Yesus memang “Tuhan semua orang” (Kis 10:36) dan “Yesus Kristus, yaitu Allah dan Raja Penyelamat kita.” (II Pet 1:1)
Kedua bagian ini, kemudian membentuk dasar dari doktrin Tritunggal: Allah adalah satu Allah, dan Yesus adalah Tuhan. Tapi bagaimana? Bagaimana mungkin Bapa adalah Allah dan juga Anak adalah Allah, dan Allah adalah satu? Apalagi, kita dapat temukan baik dalam Kitab Suci maupun di Gereja mula-mula, di samping pembahasan tentang keilahian Yesus, terdapat juga pembahasan yang setara dan sejajar tentang keilahian Roh Kudus dan hubungan-Nya dengan Bapa. Sama seperti Yesus yang diakui sebagai Allah seutuhnya, begitu pula dengan Roh Kudus yang dalam segala hal sama dengan Bapa dan Anak. (Lihat Mat 28:19, II Kor 13:13) Jadi ketika kita memikirkannya satu per satu, kita sedang mengakui bahwa Bapa, Anak, dan Roh masing-masing adalah Allah. Namun juga, ketika kita memikirkan tentang keberadaan Allah, kita sedang mengakui bahwa Ia adalah Allah dan satu-satunya Allah. Jadi, bagaimana bisa pengakuan kita ini disesuikan dengan pemaham dan akal kita, meskipun hanya dengan sedikit?
Kata yang digunakan oleh Gereja untuk menggambarkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus—yang dilihat secara terpisah—adalad ‘Pribadi’ atau ‘Oknum’ (dalam bahasa Yunani, ‘hypostasis’). Dan sejak semula, Gereja telah mengakui bahwa ketiga Pribadi Allah ini: sepenuhnya Ilahi, sepenuhnya sama, dapat dibedakan satu dari yang lainnya seperti yang kita lihat dalam pekerjaan-Nya di dunia, tetapi bekerja bersama-sama. Pertanyaan tentang bagaimana tepatnya ketiga Pribadi ini adalah sepenuhnya Allah dan merupakan satu Allah bukanlah pertanyaan yang menjadi masalah bagi gereja mula-mula, mereka benar-benar yakin bahwa kedua bagian yang mendasari definisi Tritunggal tersebut adalah benar adanya, mereka tidak terlalu mempedulikan penjelasan tentang bagaimana persisnya kedua bagian itu bersesuaian satu sama lainnya. Dengan demikian, deskripsi yang paling mendasar tentang Allah sebagai Tritunggal yang tetap kita gunakan bahkan sampai pada hari ini (dan Anda lebih baik menghafalkannya sebelum permulaan pelayanan Anda) hanyalah suatu pernyataan tentang fakta-fakta, bukanlah sebuah penjelasan. Inilah definisinya, yaitu bahwasanya ‘Allah adalah tiga Pribadi (Oknum), satu substansi’, atau ‘satu ousia, tiga hypostasis’.
Istilah “Tritunggal” dan semua pembahasan di seputarnya adalah hasil dari perjuangan Gereja untuk menjelaskan realitas ini secara lebih tepat, terutama dalam menghadapi serangkaian bidat (ajaran sesat) yang menekankan baik keesaan Allah ataupun keilahian Yesus dengan meminggirkan pentingnya pokok-pokok pikiran lainnya. Doktrin Tritunggal bukanlah sebuah definisi yang presisi seperti aksioma Peano, tetapi lebih merupakan sesuatu seperti empat batasan-batasan yang terangkai menjadi satu ‘kotak pikiran’ yang akan menjaga kita untuk tidak keluar dari batasan-batasan ini ketika kita berbicara tentang Allah.
Saya sendiri membayangkannya seperti sebuah kotak besar, atau mungkin seperti halaman berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh empat pagar. Ada banyak ruang di dalam kotak tersebut yang dapat kita gunakan untuk terus mengeksplorasi siapakah Allah itu dan siapakah Dia bagi kita, dan kita dapat menjelajahi ruang tersebut dengan aman karena “dinding kotak” akan melindungi kita agar tidak keluar terlalu jauh. Sebaliknya, ketika kita menemukan ide-ide tentang ketritunggalan Allah yang ternyata “berada di luar kotak”, maka kita dapat dengan segera mengidentifikasi hal tersebut dan menjaga diri kita sendiri serta orang-orang yang kita layani untuk tidak tersesat. Doktrin Tritunggal dapat didefinisikan dengan cara ini yaitu dengan menggambarkan empat batasan-batasan berikut (yang akan merupakan ‘dinding’ dari kotak tersebut).
Pertama, Bapa, Anak, dan Roh Kudus dapat dibedakan satu dari yang lainnya. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi Anak bukanlah Bapa, Bapa bukanlah Roh Kudus, dan Roh Kudus bukanlah Anak. Ingatlah bahwa Tritunggal adalah doktrin yang mencoba untuk mengungkapkan dalam bentuk kata-kata tentang bagaimana Allah telah mengungkapkan diri-Nya sendiri. Allah telah menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai Bapa, yang mengirimkan Anak-Nya, yang disertai dengan pemberian Roh Kudus. Kita membedakan antara Bapa, Anak, dan Roh karena Alkitab sendiri membedakan Mereka satu sama lain. Kita mengakui masing-masing sebagai Pribadi yang sepenuhnya ilahi karena Alkitab menunjukkan bahwa Mereka berinteraksi bersama-sama sebagai Pribadi dan saling memperlakukan satu sama lain sebagai Pribadi ilahi yang dapat dibedakan. (Yoh 14:16, II Pet 1:17) Itulah sebabnya mengapa kita sama sekali tidak dapat menganggap Pribadi-Pribadi Allah hanya sebagai satu Tuhan yang muncul dengan berbagai cara pada kesempatan yang berbeda, seperti dalam ajaran sesat ‘modalisme’. Bahkan, di dalam Alkitab, beberapa kali Mereka bisa dillihat edngan jelas secara simultan, seperti pada pembaptisan Yesus. (Mat 3:16-17) Kita tidak pernah melihat Mereka luruh menjadi satu atau sebaliknya satu di antara Mereka hanya dapat dijelaskan melalui kehadiran yang lainnya. Setiap Pribadi dari Tritunggal adalah benar-benar ilahi dan benar-benar merupakan satu Pribadi, bukan sekadar sebuah kekuatan atau ‘sesuatu’. Itulah sebabnya kita gunakan kata ganti ‘Dia’ apabila kita berbicara tentang Bapa, Anak, dan Roh, karena setiap Mereka sungguh-sunggguh Pribadi.
Dalam pembahasan teologi formal, biasanya digunakan frase ‘dapat dibedakan’ ketika berbicara tentang ‘ketigaan’ dari Pribadi Tritunggal—daripada menggunakan kata-kata seperti ‘berlainan’ atau ‘terpisah’—untuk membantu kita agar selalu mengingat dalam pikiran bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukanlah tiga allah yang berbeda, melainkan satu-satunya Allah, yang dinyatakan dalam tiga Pribadi. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, namun kita masih dapat membedakan Mereka masing-masing secara ke-Pribadian Mereka. Setiap ajaran tentang Allah yang gagal untuk membedakan antara ketiga Pribadi Ilahi haruslah dilihat sebagai suatu kekeliruan, yaitu, ajaran ‘luar kotak’.
Perbatas kedua doktrin Tritunggal adalah begini: Allah adalah Satu. Meskipun Bapa, Anak, dan Roh Kudus dapat dibedakan satu sama lain, hanya ada satu Allah. Bagaimanapun kita menggambarkan Allah, kita tidak boleh walaupun hanya untuk sesaat saja membiarkan diri kita untuk mempertimbangkan bahwa Ia bisa dipecah-pecah atau diduplikasi dengan cara apapun. Dia, dan hanya Dia, Allah satu-satunya, tak terbagi, dan tak dapat direproduksikan. Inilah yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa Allah adalah satu substansi. Meskipun mungkin sulit untuk menggambarkan dengan kata-kata yang tepat pemahaman kita atas hubungan antara ‘ketigaan’ dari Pribadi tersebut dan ‘kesatuan’ dari substansi Allah, kita tidak pernah mundur dari pengakuan kita bahwa hanya ada, dan hanya bisa ada, satu Allah. Allah adalah tiga Pribadi, tetapi ia tetap Satu Substansi, dan setiap ajaran tentang Allah yang gagal untuk menegaskan kemahaesaan Allah adalah ajaran yang tidak benar.
Ketiga, cara utama bagi kita untuk memahami ketritunggalan Allah adalah dengan melihat Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam hubungan kebersamaan di antara Mereka. Saya bermaksud begini: I Yohanes 4:16 mengatakan bahwa “Allah adalah kasih.” Berarti esensi dari Allah adalah kasih. Dialah kasih substansi-Nya. Inilah kunci untuk kita memahami kehidupan-Nya, yaitu siapa-Nya. Sepanjang masa kekekalan, Bapa memiliki hubungan kasih yang sempurna berlimpah dengan Anak, begitu juga antara Anak dengan Roh Kudus, dan antara Roh Kudus dengan Bapa. Bapa, Anak, dan Roh Kudus berbagi kasih yang sempurna. Keesaan Allah—yaitu kesatuan substansi yang tak terbagikan pada diri Allah—adalah kasih-Nya, yaitu hubungan kasih yang berlimpah dengan sempurna berlimpah di antara Mereka. Kemahaesaan Allah bisalah kita pahami secara Tritunggal sebagai kesatuan tiga Pribadi kekal yang saling memgasihi. Bahkan, harus dipahami seperti itu, karena keesaan Allah—substansi-Nya—adalah kasih. Kalau tidak ada Pribadi ilahi, tidak ada kasih di dalam esensi-Nya. Allah tidak pernah mengalami kesepian, tetapi kebersamaan. Allah adalah kasih. Kemahaesaan Allah, yang Dialah sendiri (dan bukan perbatasan kemampuan pikiran kita!) memilih dan membentuk, bersifat sosial. Allah-lah kasih substansi-Nya. Secara kekal, Bapa, Anak, dan Roh hidup bersama-sama dan saling mengasihi. Dan hanya karenalah kebersamaan ini, hanya karenalah kasih ini, ketiga Pribadi Tritunggal ini terwujud sebagai satu Allah.
Substansi Allah adalah substansi relasional, yaitu bukan sesuatu yang boleh dipahami secara terpisah dari Allah sendiri. Setiap Pribadi ilahi ini bersama-sama memberi dan menerima kasih yang setara satu sama lain. Kasih inilah substansi-Nya. Allah bukanlah sekadar Allah yang mengasihi, Ia adalah Allah yang adalah kasih, yang Pribadi-Nya terdiri dari kasih yang kekal antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Inilah sebabnya tidak menjadi masalah bagi kita untuk dapat memahami kesatuan Allah yang merupakan kesatuan yang memungkinkan untuk adanya ‘ketigaan’. Justru pada diri ke-Tiga-Nya, yang Satu itu ada, karena merupakan Tiga yang mencintai. Istilah teknis untuk jenis kesatuan semacam ini, yaitu kesatuan dari anggota-anggota yang saling ber-interpenetrasi dan berkontribusi bersama terhadap realitas satu sama lain, disebut ‘perichoresis’. Ini berarti bahwa Bapa adalah Bapa hanya karena Ia mengasihi dan dikasihi oleh Anak dan Roh Kudus, sebagai Bapa. Artinya ialah, Allah yang Satu ini, pada hakikat-Nya Ia tidak terpisahkan sebagai satu keesaan yang utuh dengan setiap “kesatuan” dari “ketigaan” Mereka. Ketika kita berbicara tentang ‘perichoresis’, yang kita maksudkan ialah meskipun kita membedakan antara setiap Pribadi ini saat kita berpikir tentang Mereka, namun kita senantiasa mengingat bahwa setiap Pribadi ini selalu hadir dalam Pribadi yang lainnya, karena Mereka masing-masing adalah Diri-Nya sendiri hanya dalam hubungan-Nya dengan yang lain. Jadi, hubungan antara Ketiga-Nya merupakan substansi dari Allah yang Satu. Dan karena hakikat Allah adalah kasih, maka ketiga Pribadi ilahi ini tidak pernah kesepian atau sendirian (atau membutuhkan persahabatan dari kita manusia). Kesatuan Allah, yang secara perichoresis, adalah kesatuan yang meriah dan penuh bersukacita. Kehidupan Allah adalah kehidupan yang dinamis dan sosial, bukan suatu kesendirian. Bahkan dalam tindakan penciptaan Allah mengatakan ‘kami’. (Kej 1:26, 3:22) Jadi, meskipun jawaban yang lebih panjang dan lengkap tentang bagaimana Satu adalah Tiga dan Tiga adalah Satu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjelaskannya, kita telah mendapatkan suatu pemahaman yang nyata, yaitu Allah dapat digambarkan dengan kata ‘Tritunggal’—yaitu suatu ketritunggalan—karena Allah adalah kasih. Dan setiap doktrin ketritunggalan Allah yang berusaha menjawab masalah ‘kesatuan’ dan ‘ketigaan’ Allah dengan mengenyampingkan hubungan kasih antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah kekeliruan.
Sampai sekarang ini, kita telah melihat tiga batasan, atau ‘dinding’, dari doktrin Tritunggal, yaitu: dapat dibedakannya Ketiga Pribadi, keesaan Allah yang Satu, dan kasih secara perichoresis di antara para Pribadi ilahi. Maka batasan tetap yang keempat adalah kesetaraan, yaitu kesetaraan total di antara ketiga Pribadi tersebut. Roh Kudus, Anak, dan Bapa semuanya adalah Allah yang setara. Mereka masing-masing setara dalam nilai, setara dalam kemuliaan, setara dalam Kepribadian, setara dalam kehormatan, setara dalam posisi, dan setara dalam waktu. Bapa tidak berada di bawah atau di atas Anak dan Roh Kudus, juga Ia tidaklah ‘lebih ilahi’ daripada yang lain. Anda tentu melihat bahwa ketika kita berbicara tentang ‘dapat dibedakannya’ ketiga Pribadi ini, sering begitu mudah bagi kita untuk berbicara tentang apa yang Mereka lakukan, yaitu: Bapa adalah Pencipta dan Pengutus, Anak adalah Penebus dan Yang Diutus, serta Roh Kudus adalah Pengudus dan Pemberian bagi kita. Pemahaman semacam ini tentu saja sangat tepat (dan Alkitabiah), tetapi ketika kita berpikir tentang Allah itu sendiri, adalah lebih bermanfaat untuk menggunakan istilah-istilah relasional untuk menggambarkan Allah daripada menggunakan istilah yang berakar pada apa yang Dia lakukan untuk kita. Yang saya maksud ialah ini: Saya sebenarnya adalah ‘pembaca’ cerita sebelum tidur bagi anak-anak saya dan ‘pembeli’ makanan dan pakaian untuk anak-anak saya. Tetapi jika Anda benar-benar mencoba untuk menjelaskan siapa sesungguhnya saya, saya lebih suka dikenal sebagai seorang ‘Ayah’, yang menjelaskan tentang identitas pribadi saya, bukan sekadar apa yang saya lakukan. Nilai saya bagi anak-anak saya tidak tergantung pada peran saya dalam keluarga, itu bergantung kepada siapa sesungguhnya saya, terlepas dari apa yang saya lakukan. Jadi, ketika kita mengambil waktu untuk mencoba secara formal untuk menggambarkan Allah, maka kita sedang membedakan Bapa dengan berbicara tentang Dia sebagai Yang Tidak Diperanakkan, tentang Anak sebagai Yang Diperanakkan, dan tentang Roh Kudus sebagai Yang Diberikan dari Bapa dan Anak. Ini adalah refleksi dari penyataan Alkitab tentang Anak sebagai Yang Diperanakkan dari Bapa, (Yoh 3:16) dan Roh Kudus sebagai Yang Diberikan dari Bapa dan Anak. (Yoh 14:16, 20:22) Tentu saja tidak berarti bahwa Anak diperanakkan dengan cara yang sama seperti Anda dan saya. Sama sekali tidak. Keanakan-Nya unik. Dia diperanakkan secara sorgawi,misterius, dan kekal, langsung dari Bapa-Nya tanpa pertolongan apapun atau perantaraan dari siapapun. Jadi, untuk bersikap ekstra hati-hati, terutama dalam menyingkirkan gagasan bahwa pada mulanya Bapa sendirian dan baru kemudian Anak dan Roh Kudus datang menjadi satu Pribadi untuk menemani-Nya (yang merupakan ajaran sesat ‘Arianisme’), kadang-kadang akan membantu apabila kita menggunakan istilah seperti ‘diperanakkan dalam kekekalan’ atau ‘diberikan dalam kekekalan’.
Membedakan antara Ketiga Pribadi ini tidak mengurangi kesetaraan mereka. Gregorius dari Nyssa, salah seorang uskup besar Kristen dari abad keempat, menjelaskan. Dia mengatakan bahwa ketritunggalan Allah adalah seperti sebuah keluarga, yaitu Adam, Hawa, dan Habel. Adam tidak diperanakkan, tetapi dibentuk oleh Allah dari debu tanah, Hawa dibuat dari Adam, dan Habel diperanakkan dari mereka berdua. Mereka semuanya secara alamiah sama, sama-sama manusia, sama-sama berharga, dan masing-masing dari mereka berada dalam hubungan kebersamaan (tidak satupun dari mereka sendirian) di dalam membentuk satu keluarga. Masing-masing sangat banyak kesamaannya, meskipun masing-masing berbeda asalnya dan dapat dibedakan secara pribadi. (“On the Faith”, NPNF v.338) Itulah sedikit gambaran tentang seperti siapa Allah itu. Ketiga Pribadi Tritunggal tidaklah identik, tetapi mereka secara radikal sama dan setara. Setiap ajaran tentang Allah yang gagal untuk menegaskan kesetaraan sepenuhnya di antara Pribadi Tritunggal ini, yang menyusun Mereka dalam posisi yang berbeda dalam hal keilahian atau kemuliaan, adalah kekeliruan.
Allah adalah satu, Yesus adalah Tuhan. Ini adalah dua fakta mendasar dari penyataan Allah yang menjelaskan apa yang orang Kristen maksudkan ketika mereka mengatakan bahwa Allah adalah Tritunggal. Kita tidak bisa gerak atau mundur dari posisi ini, karena di dalam Alkitab Allahlah telah mewahyukan diri sebagai tiga Pribadi yang merupakan satu substansi relasional. Pemahaman kita tentang ketritunggalan-Nya, meskipun tidak lengkap, namun bisa dengan yakin digambarkan sebagai sebuah ruang pikiran yang dibatasi oleh empat ‘dinding’ Alkitabiah yang mengendali pikiran kita dan melindungi kita. Batasan tetap tentang doktrin Tritunggal itu adalah: ‘dapat dibedakannya ketiga Pribadi’, ‘keesaan Allah yang Satu’, hubungan kasih antar Bapa, Anak, dan Roh, dan kesetaraan total dari ketiga Pribadi ilahi ini. Pribadi Bapa, Anak, Roh Kudus masing-masing adalah Allah, masing-masing penuh kemuliaan dan layak disembah, dan masing-masing adalah Pribadi dengan sungguh-sungguh. Jadi, meskipun Allah adalah Allah yang tak dapat kita pahami dengan sepenuhnya, karena pikiran kita yang terbatas, namun ‘keesaan-Nya’ dan ‘ketigaan-Nya’ bisa kita ringkas secara Alkitabiah dengan satu kata: Kasih.
Jika saya sedang mempersiapkan pelayanan saya, maka saya akan . . .
• Menghafal dan mempersiapkan diri untuk menjelaskan definisi Tritunggal, yaitu ‘tiga Pribadi (Oknum), satu substansi’
• Memahami arti dari istilah ‘perichoresis’, ‘hypostasis’, and ‘ousia’
• Memahami penggunaan istilah ‘diperanakkan’ dan ‘diberikan’ dalam pemahaman Tritunggal
• Menghafalkan Yesaya 44:6, II Petrus 1:1, dan satu ayat dari Matius 3:16-17, Matius 28:19, atau II Korintus 13:14
• Memikirkan tentang bagaimana ayat-ayat yang telah umum bagi kita, seperti Yohanes 3:16 atau Titus 3:4-7, mengajarkan kita tentang Allah Tritunggal